JAGA DAYA TAHAN TUBUH, WASPADAI TIPUS
Indonesia termasuk daerah tropis mengenal adanya dua musim, musim kemarau dan musim penghujan. Hal tersebut memungkinkan munculnya penyakit menular yang bersifat endemik seperti Penyakit Demam Tifoid. Penyakit ini mudah menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan wabah.
Demam Tifoid atau yang lebih dikenal dengan Tipus adalah suatu penyakit infeksi akut yang menyerang usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja. Dari anak-anak, orang dewasa, hingga orang tua, laki-laki maupun perempuan. Terjadinya penyakit yang merupakan penyakit menular ini tidaklah mengenal musim.
Gejala-gejala Tipus
Penyakit Tipus memiliki masa inkubasi selama 10-14 hari. Pada minggu pertama, gejala yang sering muncul antara lain nyeri kepala, demam, pusing, nyeri otot, mual, muntah, dan obstipasi atau diare. Pada minggu ke dua, gejala klinis menjadi lebih jelas, berupa demam yang tinggi, lidah tifoid, hepatomegali (pembesaran organ hati), splenomegali (pembesaran pada limpa), delirium (sindroma otak), atau psikosis (semacam halusinasi).
Cara Penularan
Cara penularan penyakit Tipus sering disebut dengan 3F, yaitu melalui Faeces (kotoran manusia), Fly (lalat), dan Food (makanan).
Cara Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal berikut:
1. Olah raga teratur
2. Makan dan minum yang higienis
3. Menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas lalat
4. Pembuatan jamban yang memenuhi syarat kesehatan
5. Istirahat yang cukup
Jenis Pemeriksaan Laboratorium
Jenis-jenis pemeriksaan yang harus dilakukan untuk mendeteksi bahwa tubuh kita terserang penyakit tipus adalah sebagai berikut :
1. Pemeriksaan Darah lengkap Otomatis
Pada darah rutin dan apusan darah tepi dapat ditemukan anemia normositik normokrom, Jumlah lekosit bisa normal, lekopeni dan lekositosis. Pada hitung jenis lekosit bisa terdapat aneosinofilia dan limfositosis relatif, Trombositopeni dapat ditemukan.
2. Tes Serologi
Tes Widal paling banyak digunakan di klinik. Peranan tes Widal sebagai tes diagnsotik sampai sekarang masih kontroversial. Jaffery dkk (Pakistan, 2003) menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas tes widal dibandingkan dengan kultur tidak terlalu tinggi yaitu 64,29 % dan 72 %.
3. Tubex / IgM Anti Salmonella
Deteksi dengan TUBEX yang berisi antigen LPS 0-9 S.typhi yang sangat spesifik untuk deteksi Demam Typhoid.Suatu penelitian (Vietnam, 2004) menunjukkan Tubex TF memiliki sensitifitas 79 % dan spesifisitas 94 %. Penelitian lain menunjukkan tes Tubex TF memiliki sensitivitas 91,2 % dan spesifisitas 82,3 % .
4. Tes Kultur
Cara terbaik untuk mengetahui adanya infeksi S. typhi adalah dengan mengidentifikasi bakteri tersebut . Spesimen sumsum tulang, darah, tinja, urin. Kultur darah adalah baku emas untuk memastikan diagnosis DT di klinik, tetapi kurang sensitif.
5. PCR













